Dari Lumpur ke Ruang Belajar: Menghidupkan Kembali Tawa Anak-anak TK 'Aisyiyah Maninjau Pascabanjir
AGAM — Suara tawa anak-anak kembali terdengar di ruang kelas TK ‘Aisyiyah Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Meski jejak banjir masih tampak di sudut-sudut sekolah, perlahan semangat belajar mulai tumbuh kembali. Bagi anak-anak usia dini di kawasan Danau Maninjau, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang aman untuk memulihkan rasa nyaman setelah bencana.
Banjir yang melanda Maninjau pada 28 November 2025 lalu sempat menghentikan aktivitas belajar mengajar. Sejumlah sarana pembelajaran rusak, alat bermain hanyut, dan ruang kelas tak lagi ramah bagi anak-anak. Guru dan orang tua pun harus berjibaku menenangkan anak-anak yang mengalami trauma ringan akibat bencana.
Di tengah situasi itu, secercah harapan datang pada Rabu (14/1). Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI hadir langsung ke Maninjau untuk mendukung pemulihan pendidikan anak usia dini. Bantuan yang disalurkan bukan hanya soal alat, tetapi juga tentang memulihkan rasa aman dan keceriaan anak-anak.
Alat peraga edukatif, pojok baca, set dapur mainan, hingga media pembelajaran baru disusun kembali di ruang kelas. Bagi anak-anak TK, benda-benda itu menjadi jembatan untuk kembali bermain, belajar, dan mengekspresikan diri setelah melewati pengalaman yang tidak mudah.
Tak kalah penting, kegiatan psikososial turut diberikan kepada guru dan murid. Anak-anak diajak menggambar dan mewarnai, menyalurkan perasaan yang selama ini terpendam. Di atas kertas-kertas gambar, lahir warna-warni cerah—simbol bahwa trauma perlahan berubah menjadi harapan.
Staf Khusus Menteri Dikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati, menegaskan bahwa anak-anak di wilayah terdampak bencana tidak boleh kehilangan hak belajarnya.
“Anak-anak di daerah terdampak bencana dan wilayah 3T harus tetap mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas. Sekolah harus menjadi ruang yang inklusif dan aman bagi semua,” ujarnya.
Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, menyampaikan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam proses pemulihan pascabencana.
“Sekolah adalah ruang untuk menghidupkan kembali harapan. Anak-anak perlu merasa aman, ceria, dan didampingi agar bisa kembali belajar dengan nyaman,” tuturnya.
Bagi para guru, kehadiran PP ‘Aisyiyah dan Kemendikdasmen menjadi suntikan semangat. Ketua PW ‘Aisyiyah Sumatra Barat, Syur’aini, mengungkapkan bahwa dukungan ini sangat berarti bagi sekolah dan masyarakat yang tengah bangkit.
“Kami merasa tidak sendirian. Ini menjadi penguatan moral bagi guru dan orang tua untuk kembali menata pendidikan anak-anak,” katanya.
Kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali bangunan fisik, tetapi juga merawat jiwa anak-anak. Dari Maninjau, sebuah pelajaran penting lahir: pendidikan yang inklusif dan penuh empati adalah kunci untuk menumbuhkan kembali harapan, bahkan setelah bencana datang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow