Dari Sikka ke Palue, ‘Aisyiyah Bawa Bantuan untuk Perempuan dan Anak Penyintas Gempa

Dari Sikka ke Palue, ‘Aisyiyah Bawa Bantuan untuk Perempuan dan Anak Penyintas Gempa

Smallest Font
Largest Font

SIKKA — Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sikka menyalurkan bantuan kepada penyintas gempa bumi di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Bantuan disalurkan ke empat desa dengan membawa kebutuhan dasar, termasuk perlengkapan yang ditujukan bagi perempuan, anak, dan balita.

Pulau Palue menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup berat akibat gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada pertengahan Agustus 2026. Berdasarkan catatan lapangan PDA Sikka, warga membutuhkan sejumlah kebutuhan dasar, seperti tenda, tikar, selimut, hingga perlengkapan untuk balita.

Ketua PDA Sikka Fitriah mengatakan, akses menuju Pulau Palue menjadi tantangan tersendiri. Pulau tersebut berjarak sekitar 65 kilometer dari wilayah Kabupaten Sikka dan perjalanan menuju lokasi harus ditempuh melalui jalur darat dan laut.

Rombongan relawan berangkat melalui Pelabuhan Kewapante, Maumere, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kapal feri selama sekitar enam jam. Setelah tiba di Pulau Palue, perjalanan menuju desa sasaran masih harus dilanjutkan dengan perahu dan berjalan kaki.

“Setelah sampai menggunakan perahu, relawan harus berjalan dengan medan yang menanjak menuju desa sekitar 30–45 menit. Kendaraan tidak bisa naik, jadi bantuan dibawa dengan dipikul,” kata Fitriah dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi pada 17 September.

Kondisi geografis menjadi salah satu kendala distribusi bantuan. Pulau Palue berada di kawasan vulkanik Gunung Rokatenda yang masih aktif. Pasca gempa, sejumlah ruas jalan juga mengalami kerusakan sehingga mobilitas menuju beberapa wilayah belum leluasa.

Untuk mencapai titik yang lebih dekat dengan desa sasaran, rombongan kembali menggunakan perahu selama sekitar 30 menit. Dari titik tersebut, relawan berjalan menyusuri medan yang menanjak untuk membawa bantuan ke masyarakat.

PDA Sikka menyalurkan bantuan ke empat desa, yakni Desa Kesokoja di Dusun Awa Male, Desa Natakuni di Dusun Cua, Desa Nitunglea di Dusun Nitung, dan Desa Tuanggeo di Dusun Okacere.

Fitriah menjelaskan, bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa kebutuhan pokok. PDA Sikka juga menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan penyintas, terutama perempuan dan anak.

Perlengkapan yang dibawa antara lain perlengkapan mandi, minyak kayu putih, minyak telon, pembalut, sembako, serta air siap minum.

“Ada beberapa rekan kami yang ditempatkan di Pulau Palue, untuk memantau apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat,” ungkap Fitriah.

Menurut Fitriah, bantuan yang disalurkan bersama Muhammadiyah tersebut akhirnya dapat menjangkau masyarakat di Pulau Palue. Ia menyebut kebutuhan warga masih besar dan berdasarkan catatan lapangan, hampir 90 persen rumah warga mengalami kerusakan berat.

Mayoritas penyintas gempa di Pulau Palue bukan beragama Islam. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi pertimbangan bagi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan.

“Mereka sangat berterima kasih kepada ‘Aisyiyah dan Universitas Muhammadiyah karena mereka langsung menerima apa yang mereka butuhkan,” pungkasnya.

Selain pemenuhan kebutuhan dasar, Fitriah berharap pemerintah dan berbagai pihak segera memberikan dukungan hunian bagi warga yang rumahnya rusak hingga rata dengan tanah. Menurutnya, kebutuhan tersebut perlu segera ditangani mengingat musim penghujan akan segera tiba.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow