Ngaji Lingkungan PP ‘Aisyiyah: Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi
YOGYAKARTA — Menjelang Ramadan 1447 H, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (LLHPB PP ‘Aisyiyah) menggelar Ngaji Lingkungan bertema “Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi” pada Sabtu (14/2) secara daring.
Kegiatan ini menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga kesempatan membangun kesadaran ekologis melalui pengendalian konsumsi dan penggunaan energi secara bijak.
Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah, Rahmawati Husein, menekankan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk mengendalikan hawa nafsu sekaligus memperkuat kesalehan ekologis.
“Ramadan adalah momentum untuk mengendalikan diri, memperbanyak amal, dan meningkatkan kesalehan, termasuk kesalehan ekologis melalui pengurangan sampah dan penghematan energi,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa selama Ramadan, timbulan sampah cenderung meningkat hingga sekitar 20 persen. Karena itu, LLHPB PP ‘Aisyiyah menyerukan gerakan Green ‘Aisyiyah melalui langkah-langkah konkret, antara lain:
- Tidak berlebihan dalam penyediaan takjil
- Menghindari plastik sekali pakai
- Membawa wadah sendiri saat membeli makanan berbuka
- Menghemat air wudhu dan listrik
- Menggunakan transportasi ramah lingkungan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau kendaraan umum untuk jarak dekat
Gerakan ini diharapkan menjadi bagian dari praktik ibadah yang selaras dengan nilai Islam agar tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi.
Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, menegaskan bahwa puasa memiliki makna mendalam sebagai jihad akbar, perjuangan besar melawan hawa nafsu keserakahan manusia.
“Puasa adalah jihad besar melawan dorongan keserakahan manusia. Ramadan menjadi ajang untuk mengendalikan diri, termasuk dalam konsumsi dan penggunaan energi,” tuturnya.
Ia menambahkan, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. “Lingkungan akan berbuat baik kepada kita jika kita berbuat baik kepada lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohammad Nurcholis, menyoroti keterkaitan antara konsumsi energi, gaya hidup modern, dan perubahan iklim.
Ia menjelaskan bahwa energi tidak hanya berbentuk listrik, tetapi juga mencakup proses produksi, distribusi, transportasi, hingga aktivitas sehari-hari.
“Setiap aktivitas kita mengonsumsi energi, termasuk dalam menyediakan makanan berbuka atau mobilitas harian. Karena itu, puasa menjadi pendidikan moral untuk menggunakan energi secara efisien dan tidak berlebihan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keadilan energi, mengingat masih banyak masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap sumber energi.
Sebagai penutup, moderator Yeni Widowaty, Anggota Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah, menyampaikan bahwa Ramadan memberi ruang untuk menata ulang cara hidup, bukan hanya menahan diri, tetapi juga membangun tanggung jawab terhadap bumi.
“Jika dilakukan secara konsisten, hal ini dapat menjadi kontribusi penting dalam membangun budaya ramah lingkungan di keluarga dan komunitas,” ujarnya.
Ngaji Lingkungan ini diikuti jajaran pimpinan LLHPB ‘Aisyiyah dari tingkat Pusat, Wilayah, hingga Daerah se-Indonesia. Sebanyak 89 peserta mengikuti kegiatan secara daring, memperkuat komitmen kolektif menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi spiritual sekaligus ekologis.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow