Ramadan Tiba, Saatnya Hadirkan Pangan Lokal di Meja Buka

Ramadan Tiba, Saatnya Hadirkan Pangan Lokal di Meja Buka

Smallest Font
Largest Font

JAKARTA — Ramadan diajak menjadi momentum untuk kembali menghadirkan pangan lokal di meja sahur dan berbuka.

Seruan ini mengemuka dalam Pengajian Tarhib Ramadan bertema “Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal” yang digelar melalui kolaborasi GreenFaith Indonesia, Yayasan KEHATI, Food Culture Alliance Indonesia (Aliansi Budaya Pangan), dan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), Senin (16/2). Kegiatan ini diikuti 42 peserta dari berbagai daerah.

Pengajian menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga momentum memperbaiki pola konsumsi agar lebih sehat, adil, dan berpihak pada lingkungan.

Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, mengingatkan bahwa puasa sejatinya mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam konsumsi makanan.

“Ramadan sering kali justru diwarnai perilaku berlebihan saat berbuka. Padahal, puasa mengajak kita kembali pada fitrah—hidup sederhana, seimbang, dan tidak berlebihan. Dalam konteks pangan, ini berarti memilih yang halal sekaligus thayyib, termasuk pangan lokal,” ujarnya.

Menurutnya, dalam perspektif teologis, manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga bumi, termasuk dalam cara memproduksi dan mengonsumsi pangan. Prinsip mizan (keseimbangan) menuntut hubungan harmonis antara manusia dan alam, yang salah satunya dapat diwujudkan melalui konsumsi pangan lokal.

Manager Program Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI, Puji Sumedi, menegaskan bahwa pangan bukan sekadar komoditas, melainkan sebuah ekosistem dari hulu hingga hilir.

“Pangan adalah hak asasi manusia. Ketika kita memilih pangan lokal, kita tidak hanya mengurangi emisi dari distribusi jarak jauh, tetapi juga berpihak pada produsen lokal serta menjaga keberlanjutan budaya pangan,” jelasnya.

Ia menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat pada bahan impor seperti terigu yang tidak tumbuh di Indonesia. Ketergantungan tersebut berdampak pada peningkatan emisi karbon sekaligus beban ekonomi nasional.

“Makanlah apa yang kita tanam, dan tanamlah apa yang kita makan,” ajaknya.

Sementara itu, Sutamara Noor dari Food Culture Alliance Indonesia menjelaskan bahwa puasa memiliki manfaat kesehatan, termasuk perbaikan metabolisme dan keseimbangan kolesterol. Namun, manfaat tersebut sering kali berkurang akibat pola berbuka yang tidak sehat.

Ia menganjurkan konsumsi buah lokal sebagai takjil, menghindari gula sederhana dan pemanis sintetis, memilih karbohidrat kompleks, serta menyusun menu seimbang berbasis pangan lokal.

“Pilihan pangan saat berbuka sangat menentukan kualitas kesehatan kita selama Ramadan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Syahrul Ramadhan, Circle Manager GreenFaith Indonesia, memperkenalkan inisiatif Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal.

Gerakan ini akan dimulai melalui kampanye di lima masjid percontohan di Kota Makassar, Lamongan, Kota Ternate, Denpasar, dan Medan. Bentuk kegiatannya antara lain kultum Ramadan berbasis dalil keagamaan tentang pangan serta penyediaan takjil berbasis pangan lokal yang minim sampah.

Praktik baik tersebut akan didokumentasikan sebagai materi kampanye publik guna mendorong replikasi di komunitas lain, termasuk jaringan IMM.

“Ramadan adalah momentum untuk mengembalikan pangan lokal ke meja makan umat. Gerakan ini dimulai dari langkah kecil, dari dapur kita sendiri,” ujar Syahrul, seraya membagikan Modul Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal kepada peserta.

Modul tersebut disusun bersama sejumlah organisasi pemerhati pangan lokal, antara lain Masak TV, Food Culture Alliance, Nusantara Food Biodiversity, Yayasan KEHATI, GreenFaith Indonesia, YAMMI, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, DPP IMM, dan DIPLOVA Institute.

Sebagai penutup, moderator dari DPP IMM, Najihus Salam, menegaskan bahwa diversifikasi pangan lokal bukan sekadar pilihan konsumsi, tetapi bagian dari ibadah, keadilan sosial, dan tanggung jawab ekologis.

Ramadan pun diharapkan menjadi titik tolak perubahan, menghadirkan kembali pangan Nusantara sebagai wujud kesalehan spiritual sekaligus kesalehan sosial dan lingkungan.ual sekaligus kesalehan sosial dan lingkungan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow