Ketum PP ‘Aisyiyah Tinjau Dapur SPPG di Sukoharjo, Pastikan MBG Berjalan Optimal dan Berkelanjutan

Ketum PP ‘Aisyiyah Tinjau Dapur SPPG di Sukoharjo, Pastikan MBG Berjalan Optimal dan Berkelanjutan

Smallest Font
Largest Font

SUKOHARJO — Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, bersama tim Koordinator Nasional Makan Bergizi Muhammadiyah melakukan kunjungan ke tiga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sukoharjo, Kamis (12/2).

Kunjungan ini bertujuan memastikan pengelolaan dapur berjalan optimal, bebas dari kendala teknis, serta selaras dengan nilai-nilai gerakan yang menekankan keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Tiga dapur yang ditinjau terdiri atas dua unit yang dikelola Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sukoharjo dan satu unit milik RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo. Seluruhnya berperan aktif dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai bagian dari komitmen Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam memerangi persoalan gizi di Indonesia.

Salmah mengapresiasi model pengelolaan dapur berbasis koperasi yang diterapkan. Menurutnya, sistem ini tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi lokal.

Dalam skema tersebut, pengadaan bahan baku hingga distribusi makanan dilakukan dalam satu ekosistem yang melibatkan anggota ‘Aisyiyah dan masyarakat sekitar. Pola ini dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi warga sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan bahan pangan bagi program MBG.

Salah satu praktik yang mendapat perhatian khusus adalah pengelolaan limbah di dapur SPPG PDA Sukoharjo yang mengadopsi konsep zero waste. Limbah organik, termasuk sisa makanan, diolah menggunakan maggot untuk mengurai sampah.

Hasilnya, maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele yang dibudidayakan di sekitar dapur. Siklus ini menciptakan sistem produksi yang efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

Dalam kesempatan tersebut, Salmah menegaskan pentingnya menjaga prinsip halal dan thayyib sejak pengadaan bahan baku hingga distribusi makanan.

Program SPPG, tegasnya, merupakan wujud tanggung jawab sosial sekaligus keagamaan. Menyediakan makanan bergizi, halal, dan baik bagi anak-anak bukan sekadar program sosial, tetapi juga bagian dari ibadah yang melahirkan generasi sehat, kuat, dan berkemajuan.

Salmah juga menekankan pentingnya penguatan nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi para pengelola dapur. Dengan pemahaman AIK yang kokoh, pengelola diharapkan tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga menjalankan amanah dengan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sesuai ideologi Muhammadiyah.

Saat ini, sebanyak 105 dapur SPPG telah beroperasi di berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah dapur ‘Aisyiyah lainnya masih dalam tahap pembangunan dan proses perizinan.

Melalui inovasi berkelanjutan, tata kelola profesional, serta integrasi nilai-nilai keislaman, ‘Aisyiyah berkomitmen menjadikan SPPG bukan sekadar dapur produksi makanan bergizi, melainkan juga sarana dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Model ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi dapur lainnya dalam mendukung ketahanan pangan, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow