‘Aisyiyah Dorong Edukasi Kesehatan Reproduksi untuk Anak Usia Dini

‘Aisyiyah Dorong Edukasi Kesehatan Reproduksi untuk Anak Usia Dini

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah bersama Program Inklusi ‘Aisyiyah menggelar Workshop Penyusunan Modul Kesehatan dan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) bagi anak usia PAUD dan pendidikan dasar, Jumat (8/5). Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini melibatkan unsur kesehatan, pendidikan, psikolog, pemerintah, hingga praktisi pendidikan anak usia dini.

Workshop tersebut digelar sebagai upaya menyusun panduan edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tingginya kasus kekerasan terhadap anak menjadi salah satu alasan penting perlunya pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi diberikan sejak dini.

Koordinator Program Inklusi ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, mengatakan pendidikan kesehatan reproduksi tidak seharusnya baru diberikan saat remaja. Menurutnya, anak usia dini juga perlu mendapatkan pemahaman yang tepat sesuai usia mereka.

“Harapannya panduan ini akan menjadi modeling, di mana kita akan melakukan pelatihan pada guru-guru agar memiliki kompetensi edukasi HKSR, baik masuk dalam kurikulum maupun terintegrasi dalam pembelajaran,” ujarnya.

Tri Hastuti menilai jaringan pendidikan ‘Aisyiyah memiliki potensi besar untuk menerapkan program tersebut secara luas. Ia menyebut ‘Aisyiyah memiliki sekitar 20 ribu lembaga PAUD serta sejumlah sekolah dasar dan menengah yang dapat menjadi bagian dari pengembangan model pembelajaran HKSR.

“Modeling ini bisa kita lakukan di sekolah Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah,” kata Sekretaris Umum PP 'Aisyiyah itu.

Sementara itu, Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Warsiti, menyampaikan bahwa workshop ini bukan sekadar agenda penyusunan modul, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem perlindungan anak melalui pendidikan kesehatan reproduksi.

Menurut Warsiti, edukasi kesehatan reproduksi yang terlambat diberikan dapat membuat anak kehilangan pemahaman penting sesuai tahapan tumbuh kembangnya.

“Kesehatan reproduksi sering kali baru diberikan pada remaja, padahal terdapat siklus perkembangan anak yang terlewat jika pendidikan tidak dimulai sejak usia dini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan di era digital, ketika anak-anak semakin mudah mengakses berbagai informasi tanpa pendampingan yang memadai.

“Bagaimana kita memberikan informasi yang aman, benar, dan sesuai tahap perkembangan anak menjadi pekerjaan besar kita bersama,” tambahnya.

Dukungan terhadap penyusunan modul tersebut juga datang dari pemerintah. Ketua Tim Kerja Direktorat Bina Kesehatan Reproduksi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Sheilla Virarisca, mengatakan pemerintah siap terlibat dalam penyusunan modul HKSR tersebut.

Menurut Sheilla, pemerintah telah memiliki kebijakan yang mendukung edukasi kesehatan reproduksi berbasis siklus hidup, salah satunya melalui PP Nomor 28 Tahun 2024.

“Program kespro dilakukan melalui pendekatan siklus hidup mulai dari usia dini hingga lansia, karena setiap tahap perkembangan memiliki kebutuhan dan intervensi yang berbeda,” jelasnya.

Melalui workshop ini, PP ‘Aisyiyah berharap modul HKSR dapat menjadi panduan pembelajaran yang aplikatif dan dapat diterapkan di lingkungan pendidikan anak usia dini maupun sekolah dasar sebagai bagian dari penguatan perlindungan anak dan pendidikan kesehatan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow